ZAPIN DAN TOM IBNUR: SEBUAH PERJALANAN PANJANG DARI ZAPIN TRADISI KE ZAPINEOZAPIN MENGENAL ZAPIN Tahun 1960 - 1970, saya mulai mengenal zapin di sebuah perhelatan di rumah keluarga Melayu di kota Padang. Selain itu, salah satu nomor tari zapin menjadi nomor tari yang sering ditampilkan selain serampang dua belas, mainang pulau kampai, kuala deli dan sejenisnya, oleh kelompok-kelompok kesenian yang ada masa itu Rentaknya memang agak berbeda dan lebih rancak, namun tidak selincah joged atau rentak lagu dua. Dalam kurun waktu itulah, saya mulai mengenal zapin dan ikut belajar serta menarikannya. Tidak begitu banyak variasi dan gayanya. Tapi cukup untuk perbendaharaan tari dalam berbagai pertunjukan. MENATA ZAPIN Tahun 1970 - 1980, perbendaharaan zapin dari berbagai daerah yang dekat dengan Sumatera Barat, antara lain: Riau, Jambi, dan Medan, telah merangsang keinginan untuk mengembangkannya. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasannya pengetahuan dalam menata tari sehingga hasilnya masih saja dalam tatanan dan rasa tradisi. Namun pada masanya zapin yang ditata tersebut sudah dipandang sebagai pembaharuan karena tidak lagi terikat dengan ragam-ragam, langkah-langkah, atau disebut juga pasal-pasal zapin. Aturan-aturan yang mengikat tersebut masih ada yang terbawa namun banyak juga yang ditinggalkan. Satu hal yang sangat mengganggu adalah ketika zapin diiringi dengan perangkat alat musik band. Penataan zapin lebih terarah karena pada tahun 1979 saya mulai kuliah di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta. Sehingga pada awal tahun 1980, keinginan untuk menata zapin ke dunia barunya sudah mulai terlihat. Beberapa karya zapin yang ditata pada era ini antara lain: zapin Bunga Rampai, zapin Anak Ayam, zapin Besilang, dan lainnya. MENGEMBANGKAN AKAR ZAPIN Tahun 1980 - 1990, saya mulai mencari akar zapin di berbagai daerah di nusantara. Beberapa daerah yang diteliti adalah Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Pekalongan, Semarang, Tuban, Gresik, Bondowoso, Situbondo, Jember, Kraksan, Sumenep, Pamekasan, Pontianak, Mempawah, Singkawang, dan Sambas. Peristiwa-peristiwa Budaya seperti Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) untuk tingkat daerah dan nasional telah memberi peluang bagi saya untuk mencari akar zapin di nusantara. Zapin akhirnya mewarnai pergelaran kesenian untuk setiap pembukaan dan penutupan MTQ Nasional di daerah-daerah yang mempunyai akar zapin yang kuat. Kekuatan zapin dapat terlihat pada karya-karya tari massal, baik sebagai koreografer maupun konsultan artistik, antara lain: · ZIKIR (1983), MTQ Nasional ke 13, di Padang, Sumatera Barat · JEPIN (1985), MTQ Nasional ke 14, di Pontianak, Kalimantan Barat · BEDANA (1987), MTQ Nasional ke 15, di Bandar Lampung, Lampung Sedangkan karya-karya tari yang dipentaskan di teater, bermunculan dengan kekuatan akar zapin tradisi namun mencari bentuk baru dalam penampilannya. Misalnya: peningkatan teknik, tema, artistik, koreografi dan penampilan. Karya-karya tersebut antara lain: · MAULID (1983), Institut Kesenian Jakarta · CIK AWANG (1984), Singapore Arts Festival · KHOTBAH (1986), Taman Ismail Marzuki Jakarta · ZAPIN DANA BEDANA (1987),Taman Ismail Marzuki Jakarta · ZAPIN, JEPIN, ZAFIN (1987), Asean Festival of Performing Arts di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam · SHOR-SHOR (1988), Taman Ismail Marzuki Jakarta dan Pendopo Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. · GAUNG (1988), Gedung Kesenian Jakarta, dan Singapore Arts Festival MEMBERI DUNIA BARU PADA ZAPIN Tahun 1990 - 2000, merupakan kebangkitan zapin. Penelitian terhadap berbagai zapin semakin saya kembangkan pada dunia baru, Perbendaharaannya semakin diperluas ke arah timur nusantara, seperti; Ambon, Ternate, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sumbawa, Mataram, dan Nagara di Bali. Demikian pula ke tengah dan barat nusantara, seperti: Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jambi, dan Sumatera Selatan. Beberapa tempat di negara tetangga juga memperkaya wawasan, seperti: Johor Bahru, Ipoh, Melaka, Sarawak, Sabah, di Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Zapin harus diberi dunianya yang baru. Pemberontakan terhadap dunia zapin saya lakukan dengan penciptaan-penciptaan karya tari yang bukan hanya sekedar memoles tradisi, tetapi menumbuhkannya menjadi sesuatu yang baru. Zapin akhirnya tidak hanya untuk dunianya sendiri atau masyarakat yang sempit, namun dapat diciptakan dalam bentuk tari baru dan dinikmati secara universal. Beberapa karya tari yang lama diubahsuai kembali untuk tuntutan dunia barunya. Maka muncullah karya-karya tari seperti: · ZIKHRUL HAYAH (1991), Penutupan Festival Istiqlal I, di Masjid Istiqlal Jakarta · DI BAWAH KUBAH LANGIT (1992), Indonesian Dance Festival I di Gedung Kesenian Jakarta · SOLIDARITAS DAN TRAGEDI BOSNIA (1993), Taman Ismail Marzuki Jakarta, kolaborasi dengan penyair Taufik Ismail · SEMARAK EMAS (1995), Pembukaan Festival Istiqlal II, di Masjid Istiqlal Jakarta · BILAL (1995), Festival Istiqlal II, di Gedung Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki Jakarta · MENCARI JALAN KEBENARAN (1995), Penutupan Festival Istiqlal II, di Masjid Istiqlal Jakarta, kolaborasi dengan Trio Bimbo · JALAN PUTIH (1997), Penutupan MTQ Nasional ke 18, di Jambi, kolaborasi dengan Trio Bimbo · SIKOK (1998), Festival Zapin Nusantara, di Johor Bahru Malaysia · RENGAS CONDONG (2000), diciptakan pada tahun 2000, dipentaskan di Festival Kesenian Melayu Se Dunia di Johor Bahru Malaysia, tahun 2001 · ZAPIN LAMBUNG (2001), Festival Kesenian Melayu Se Dunia di Johor Bahru Malaysia Selain membangkitkan dunia baru zapin, sayapun bergerak untuk menumbuhkan festival zapin di berbagai daerah dan negara. Baik sebagai penggerak maupun sebagai konsultan artistik dan manajemen festival. Seperti: Festival Zapin Nusantara di Johor Bahru Malaysia tahun 1998, Bintan Zapin Festival di Tanjung Pinang tahun 2000, Festival Kesenian Melayu Se Dunia di Johor Bahru Malaysia tahun 2001, dan Singapore Zapin Festival tahun 2001. Dalam setiap festival akan berkumpul para ahli, seniman, pemikir, kritikus, pengelola, pengayom, dan pemerhati untuk dapat bersama-sama mendukung keberadaan zapin sebagai khasanah dan kehidupan seni masa depan. ZAPINEOZAPIN 2000 - selanjutnya. Zapineozapin sesungguhnya muara dari proses yang begitu panjang dari zapin. Air yang mengalir halus, beriak, berombak, kencang dan deras mencari lautan lepas melalui muara sungainya. Zapineozapin merupakan ungkapan baru, konsep baru, dari apa yang telah dibuat dan diperbaharui terhadap zapin selama ini. Langkah tari yang selama ini sempit dikembangkan menjadi langkah yang luas, luwes dan lepas mengikut alur gerak tari baru.Teknik menari akan lebih menjadi perhatian dan bukan hanya sekedar bisa bergerak. Tetapi tuntutannya pasti dan tepat, tanpa meninggalkan bagian-bagian yang kuat untuk menumbuhkan improvisasi yang hidup. Tempo pun akan sangat bervariasi, tidak lagi terpaku pada hitungan yang tetap. Diharapkan lebih dinamis dan terkadang kontras terhadap iringan musiknya. Sementara musik iringan akan bervariasi mulai dari minimalis, romantik, tegas, sunyi dan gemuruh, yang dihasilkan dari perpaduan alat musik tradisi dan teknologi baru. Ruang mengambil berbagai kemungkinan. Keterbatasan dan keleluasaan, tinggal landas dan menapak, diharapkan dapat berdiri masing-masing atau berpadu satu dengan yang lainnya. Ruang akhirnya tidak mengikat gerak, karena gerak akan mencari ruang dengan segala bentuk dan makna. Tema akan mengacu menjadi universal, tanpa terikat pada tema-tema yang ada, apalagi hanya tertuju pada tema-tema keagamaan. Namun kaidah-kaidah agama, dalam hal ini Islam, akan tetap terjaga. Kekuatan simbol-simbol akan diangkat menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memperkuat tema secara abstrak maupun imajinatif. Koreografi menunjukkan perlawanan terhadap beberapa kaidah-kaidah koreografi yang lazim dilakukan. Dia menjadi bebas membentang cakrawala pemikiran tanpa mengenyampingkan penampilan yang penting untuk dinikmati. Pendukung artistik lainnya seperti kostum, tata rias, panggung, atmosfir, dan lainnya akan ditunjang oleh kekuatan kualitas props dan teknologi. HARAPAN Konsep dan rancangan terhadap zapineozapin sesungguhnya telah lama terpikirkan. Baru saat ini dapat dituangkan dalam tulisan sebagai ungkapan pemikiran-pemikiran yang terus berkembang. Tak ada yang dapat memastikan bahwa sesuatu yang baru akan lahir, tetapi tanpa berpikir suatu yang baru adalah kematian. Menuangkan konsep zapineozapin ke atas pentas dan dinikmati menjadi pertunjukan membutuhkan usaha yang keras dan bantuan dari berbagai pihak yang peduli akan dunia baru. Baik secara moril maupun materil, meskipun semakin terasa sulit untuk meraih dan menggenggamnya. HARI INI KITA MENANAM BENIH, DAN KITA TAK TAHU KAPAN AKAN MENUAINYA. NAMUN TANAMAN YANG TUMBUH TETAP DIPELIHARA UNTUK GENERASI MASA DEPAN. Jambi, 15 Oktober 2001 Konseptor, Tom Ibnur